Aku mencintainya...

 Dahiku mengernyit

Mataku tertuju pada jam di pergelangan tangan kiriku, wallpaper kucingnya menyapaku manja. Waktunya menunjukkan pukul 20.27.

“Sudah telat 12 menit huh” geramku dalam hati.

Pandanganku kembali menuju tempat itu, pintu keluar Stasiun Purwakarta. Aku duduk terdiam diatas motor yang kumatikan, sembari ku mainkan kakiku membuang jenuh.

Kuambil handphone di dalam tasku, siapa tahu ada pesan yang belum kubaca. Ternyata memang ada, seseorang yang sedang kutunggu mengirimku pesan singkat.

“Kereta Mas sudah sampai, Dek”

Bibirku yang mulanya merengut, tanpa kusadari kembali tertarik keatas menghasilkan senyuman. Tanpa pikir panjang kuarahkan kembali pandanganku kedepan, kearah pintu keluar stasiun. Tanpa harus kupindai, aku menemukan sosok yang kuharapkan. Pandanganku langsung menemukannya diantara banyaknya orang yang berjalan keluar dari stasiun. Sosok tinggi itu dengan langkah tegap berjalan menuju ke arah gerbang parkir tempatku menunggu, rupanya dia belum menyadari keberadaanku. Kugoyangkan sedikit tubuhku sambil kuberi sinyal gestur, berharap agar dia melihatku.

Dan itu dia, dia menatapku.

Senyuman tanpa terputus tergambar dari wajahnya. Matanya masih tetap sama, sama dengan mata yang sangat kurindukan. Kerlingan itu benar-benar menghias wajahnya, wajah sendu nan sayu.

Wajah yang sangat kusukai.

Tangannya memberiku sapaan hangat, bergoyang memberiku kebahagiaan. Dia berjalan dengan senyum itu kearahku. Tanpa kusadari aku pun tak luput dari senyum yang merekah menyambutnya.

Dia mendekat.

“Sudah lama, Dek?” Tanyanya sembari menimpaliku senyum yang benar-benar manis.

“Ehmm.. ehmm” Sambutku sambil menggeleng. Tidak, tidak pernah lama. Apapun hal yang berkaitan dengannya, aku akan dengan sangat senang hati melakukannya. Termasuk menunggu kehadirannya.

“Sini, Mamas” kataku mempersilakannya untuk duduk didepanku untuk membawa motor. Ya, dialah pasanganku yang datang dari jauh untuk menemuiku. Malam itu sungguh malam yang kunantikan, kunantikan kedatangan lelakiku untuk menemaniku. Kembali aku yang diboncengnya. Dengan sigap ia langsung duduk dan bersiap mengendarai motorku.

“Mau kemana, Dek?” tanyanya antusias. Aku pun langsung memberinya usulan cafe yang enak dan nyaman untuk ngobrol. Tanpa babibu, dia mulai nyalakan motor dan bersiap ke tempat tujuan yang sudah ditentukan.

Di dalam derunya angin malam dan motor yang melaju pelan, kuperhatikan bahu tegap itu dari belakang. Tegas dan tegak. Meski begitu, kurasakan pula lelah yang mengalir dari pundaknya. Bebannya sudah berat, tetapi demi aku, dia singkirkan lelah itu untuk menemuiku yang jauh darinya ini. Seketika air menetes dari mataku tanpa dia tahu, semua yang dia usahakan saat itu benar-benar aku rasakan. Kucium aroma tubuhnya dari belakang, kupertegas lagi penglihatanku dalam menatap tubuhnya, pemandangan itu benar-benar meyakinkanku bahwa aku sangat mencintainya.

Aku benar-benar mencintainya.

“Dek” panggilnya

“Ha? ke kanan, Mas” kuarahkan lagi ia karena tidak tahu daerah situ.

Kupeluk erat tubuhnya dari belakang, hangat dan sangat nyaman. Ada aliran yang membuatku tenang ketika aku menyentuhnya, mendekapnya erat. Kututup mataku dan membiarkan hangat tubuhnya memerangi dinginnya angin yang menusuk kulitku. Rasanya damai dan tenang. Aku sangat menyukainya.

Malam itu hanya 3 jam aku bersamanya. Kunikmati waktu yang singkat itu untuk bersenda gurau dan melakukan banyak hal bersama. Aku merasakan kedamaian didekatnya, aku merasa dilindungi dan dicintai. Kuhabiskan malam itu dengan bahagia, dan cinta.

“Mas gak mau pulang, Dek”

Sama, Mas. Aku pun ingin kamu ada disini, selalu. Didekatku, mendekapku dengan lembut. Memberiku utuh yang benar-benar utuh.

Aku sangat mencintaimu, Mamas.

Batinku.

Tetapi yang kuberi hanya senyuman saja, aku tak pandai untuk mengungkapkan. Bibirku selalu getar, tenggorokanku tercekat, sulit untuk memberi ungkapan rasa. Tetapi yang pasti, aku benar-benar menginginkannya, selamanya.

Kutatap matanya yang sayu dengan penuh kekaguman. Kurasakan kembali lelahnya yang tak pernah ia tampakkan, usaha dan pengorbanan yang tak pernah ia pamerkan. Tatapannya sendu, tetapi penuh dengan keyakinan dan cinta. Saat itu pula kusadari, aku ingin segala tentangnya mengalir dalam darahku dan menjadi bagian dari diriku. Lelahnya, bahagianya, sedihnya, segalanya. Aku ingin segala tentangnya ada didiriku. Aku berjanji dengan diriku sendiri, bahwa aku akan selalu ada disisinya bagaimanapun situasinya.

Lelakiku ini benar-benar membuatku kagum. Lelah dan pengorbanannya untukku selama ini tak pernah sesali. Apabila banyak orang yang mengetahuinya, mereka pasti akan iri terhadapku. Aku lah wanita beruntung itu, wanita yang menemukan pria sempurna dihidupnya.

“Hati-hati, Mamas”

Hanya itu yang bisa kuucapkan ketika harus berpisah. Melihatnya berlinang, membuat hatiku tergerus. Aku menyadari bahwa setelah ini aku harus kembali bersahabat dengan jarak. Meski begitu, malam ini cukup membuatku benar-benar kembali damai. Kedamaian yang diciptakan oleh lelakiku hanya untukku. Dan setelah ini pula, akan kupastikan lelakiku senantiasa bahagia, selamanya.

Aku mencintainya...

Comments