Sebelum aku mnginjak tanah perantauanku ini, aku masih begitu kecil. Kecil dalam arti masih begitu lugu dan begitu kekanakan. Minim pengalaman dan masih manja. Lalu sekarang aku disini, memulai hidup baru dengan kota baruku. Yogyakarta.
Aku ingat betul hari pertama aku memijakkan kaki di sini. Bersama orang tuaku, bersama barang-barang kesayanganku. Aku tersenyum simpul.
"Ini lah aku, Ma, Pa, diriku yang selama ini tersesat dan ku temukan lagi sendiri"
Begitu batinku berbicara. Semua selesai, kulambaikan tanganku kepada mereka yang berjalan pulang, meninggalkanku bersama kota asing yang akan menjadi saksi bisuku bertahan hidup dan menjalani hidup. Setetes air mata turun tanpa kusadari, pertanda hidup baruku akan dimulai, disini.
Yogyakarta,
Hampir semua orang memaknai kota ini dengan keromantisannya. Sudut kota yang penuh makna dan indahnya memori dengan orang tercinta. Tetapi, mungkin lain untukku. Yang sangat membedakan kota ini dengan kota-kota lain adalah, orang-orang yang berada di dalamnya.
Aku hidup disini, kurang lebih baru enam bulan lamanya. Orang pasti berpikir,
"Ah baru enam bulan saja kok"
Tapi tidak buatku, Tuhan dengan sengaja mempertemukanku dengan orang-orang yang berbeda, yang membuatku menjadi pribadi yang berbeda pula. Kukira aku akan merasa selalu ingin pulang, tapi nyatanya tidak. Aku nyaman, aku merasa aman. Kembali lagi, karena orang-orangnya.
Aku sekarang memang bingung bagaimana menggambarkan perasaanku dan persepsiku terhadap Yogyakarta, tempat 'numpleknya' manusia dari berbagai wilayah negeri bahkan dunia. Tapi satu hal yang harus diketahui selama aku tinggal di kota kenangan ini.
Memaknai hidup.
Aku belajar banyak disini. Aku merasa aku harus menemukan apa tujuanku hidup. Aku merasa digiring untuk selangkah lebih maju. Sudahkah aku benar-benar membantu orang? Sudahkah aku benar-benar nyata bertindak untuk orang disekitar? Apa aku masih pamrih? Dan pertanyaan-pertanyaan seputar jati diri yang selalu mencuat ketika aku akan terlelap tidur.
Aku sering menatap langit Jogja. Pagi sebelum berangkat kuliah, siang saat pergantian jam kuliah, sore ketika pulang kuliah, dan bahkan malam hari ketika obrolan di burjo sedang berlangsung. Begitu indah, begitu beragam. Seperti rutinitas, tetapi banyak yang ada didalam benak ketika menatap langit yang sering berubah warna itu. Makna. Makna langit Jogja yang begitu dalam.
Aku masih merasa kurang, aku ingin banyak menyerap pengalaman dari orang-orang disini, ingin menjadi berguna, ingin menjadi manusia baik.
Banyak sekali suka, tapi tak sedikit duka yang kualami. Bukan, bukan sekedar putus cinta atau bertepuk sebelah tangan atau dilema anak muda jaman sekarang. Tapi lebih dari itu. Saat-saat dimana merasa kurang berguna dan malah menyusahkan orang, saat dilema akan pilihan-pilihan penting, saat banyak tanggung jawab ketika kewajiban harus dipenuhi, saat harus menerima banyak beban dari orang sekitar, juga saat terpuruk padahal jauh dari orang tua. Dan aku pernah merasa lelah, aku pernah merasa berjuang sendiri. Tapi itu semua mengajarkanku, mendewasakanku, dan membuatku lebih kuat, walaupun aku masih terlihat lemah. Jogja membuka mata dan hatiku, bahwa hidup dan berdinamika di umurku ini, adalah berat. Tapi bermakna.
Jarak Jogja dengan rumahku memang tidak begitu jauh, aku sering pulang menjumpai orang tua. Tetapi ada satu yang menarikku kembali ke kota itu, yaitu cerita yang harus kuperankan selanjutnya disini, di tempat ini, di kota ini.
Sincerely,
Aku ingat betul hari pertama aku memijakkan kaki di sini. Bersama orang tuaku, bersama barang-barang kesayanganku. Aku tersenyum simpul.
"Ini lah aku, Ma, Pa, diriku yang selama ini tersesat dan ku temukan lagi sendiri"
Begitu batinku berbicara. Semua selesai, kulambaikan tanganku kepada mereka yang berjalan pulang, meninggalkanku bersama kota asing yang akan menjadi saksi bisuku bertahan hidup dan menjalani hidup. Setetes air mata turun tanpa kusadari, pertanda hidup baruku akan dimulai, disini.
Yogyakarta,
Hampir semua orang memaknai kota ini dengan keromantisannya. Sudut kota yang penuh makna dan indahnya memori dengan orang tercinta. Tetapi, mungkin lain untukku. Yang sangat membedakan kota ini dengan kota-kota lain adalah, orang-orang yang berada di dalamnya.
Aku hidup disini, kurang lebih baru enam bulan lamanya. Orang pasti berpikir,
"Ah baru enam bulan saja kok"
Tapi tidak buatku, Tuhan dengan sengaja mempertemukanku dengan orang-orang yang berbeda, yang membuatku menjadi pribadi yang berbeda pula. Kukira aku akan merasa selalu ingin pulang, tapi nyatanya tidak. Aku nyaman, aku merasa aman. Kembali lagi, karena orang-orangnya.
Aku sekarang memang bingung bagaimana menggambarkan perasaanku dan persepsiku terhadap Yogyakarta, tempat 'numpleknya' manusia dari berbagai wilayah negeri bahkan dunia. Tapi satu hal yang harus diketahui selama aku tinggal di kota kenangan ini.
Memaknai hidup.
Aku belajar banyak disini. Aku merasa aku harus menemukan apa tujuanku hidup. Aku merasa digiring untuk selangkah lebih maju. Sudahkah aku benar-benar membantu orang? Sudahkah aku benar-benar nyata bertindak untuk orang disekitar? Apa aku masih pamrih? Dan pertanyaan-pertanyaan seputar jati diri yang selalu mencuat ketika aku akan terlelap tidur.
Aku sering menatap langit Jogja. Pagi sebelum berangkat kuliah, siang saat pergantian jam kuliah, sore ketika pulang kuliah, dan bahkan malam hari ketika obrolan di burjo sedang berlangsung. Begitu indah, begitu beragam. Seperti rutinitas, tetapi banyak yang ada didalam benak ketika menatap langit yang sering berubah warna itu. Makna. Makna langit Jogja yang begitu dalam.
Aku masih merasa kurang, aku ingin banyak menyerap pengalaman dari orang-orang disini, ingin menjadi berguna, ingin menjadi manusia baik.
Banyak sekali suka, tapi tak sedikit duka yang kualami. Bukan, bukan sekedar putus cinta atau bertepuk sebelah tangan atau dilema anak muda jaman sekarang. Tapi lebih dari itu. Saat-saat dimana merasa kurang berguna dan malah menyusahkan orang, saat dilema akan pilihan-pilihan penting, saat banyak tanggung jawab ketika kewajiban harus dipenuhi, saat harus menerima banyak beban dari orang sekitar, juga saat terpuruk padahal jauh dari orang tua. Dan aku pernah merasa lelah, aku pernah merasa berjuang sendiri. Tapi itu semua mengajarkanku, mendewasakanku, dan membuatku lebih kuat, walaupun aku masih terlihat lemah. Jogja membuka mata dan hatiku, bahwa hidup dan berdinamika di umurku ini, adalah berat. Tapi bermakna.
Jarak Jogja dengan rumahku memang tidak begitu jauh, aku sering pulang menjumpai orang tua. Tetapi ada satu yang menarikku kembali ke kota itu, yaitu cerita yang harus kuperankan selanjutnya disini, di tempat ini, di kota ini.
Yogyakarta, 15 Februari 2018
Sincerely,
Faradesyta
Comments
Post a Comment