Kenapa 'aku'?

Jogja malam itu cerah, langitnya sibuk.
Ku mendongak, lagi-lagi apa? Sebaiknya apa kusudahi saja?



Apa yang membuatku tidak berani untuk maju? Menatap pun aku tak sanggup. Setakut inikah aku perihal cinta? Setrauma inikah aku merasakan suka?
Entah.
Yang pasti aku sangat takut. Sangat-sangat takut bahkan untuk melihat nama saja.
Aku akan jauh lebih baik jika tidak ada temu.
Itulah alasanku mengapa aku lebih bahagia dan ceria jika tidak bertemu dengan orang yang ku damba. Aneh? Memang. Aku pun juga merasa hal yang sama. Kemana aku yang dulu, aku sebenarnya tidak peduli. Yang ku pedulikan adalah... bagaimana aku bisa tidak takut lagi menghirup aroma asmara, seperti dahulu kala.

Tunggu.
Cinta tidak salah, aku yang parah. Mengapa? Aku bahkan menumpuk namamu agar tak tertangkap pandangku. Aku bahkan memilih jalan lain yang lebih jauh agar tak bertemu tatapmu. Aku juga ingin segera menyudahi segala urusan denganmu. Aku sekarang pun tidak ingin mengikuti sesuatu yang ingin kau ikuti. Sewajarnya orang jatuh cinta, ingin dekat, ingin selalu bersama, dan justru curi-curi kesempatan. Tapi aku? Aku malah menghindarimu, segala tentangmu. Aku takut, ya aku sangat takut.
Aku takut karena kau 'memunggungi'ku.

 Jika aku bisa memilih, aku memilih untuk tidak memberikan perasaan ini kepada siapa-siapa. Aku menghindarimu, tapi hati tetap bersikeras mengagumimu. Kontradiktif. Aku pun sebenarnya lelah.


Kapan aku sembuh? Siapa yang akan menyembuhkanku? 


S

Comments