Semesta telah menyadarkanku.
Purnama, pernah ku ukir cerita penuh dosa perihal ingkar. Tapi kali ini tak lagi menyoal ingkar. Lebih dari itu, lebih lara, lebih nestapa. Kesadaran, memang aku jadi sadar 'apa' dan 'bagaimana' perasaan yang akhir-akhir ini banyak merenggut atensiku. Aku jadi mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Tapi, inilah yang malah menciptakan benang kusut baru.
Aku menaruh perhatian padanya, tapi aku selalu menyangkalnya.
Kutatap purnama lekat-lekat, mengapa kau harus menjadi mediaku dalam memaknai semua ini? Tolong, aku ingin memiliki kenangan indah tentangmu, jangan lagi perkara lara.
Sesungguhnya yang aku inginkan adalah kejujuran dari hatiku sendiri. Aku sering cemburu ketika melihatnya lebih merasa nyaman dengan perempuan lain. Aku cemburu ketika ia lebih bisa memahami orang lain. Aku cemburu ketika ia lebih memperhatikan perempuan lain dan sudah terlalu banyak perempuan yang pula perhatian padanya. Aku sedih ketika aku tidak lagi menarik baginya. Aku ingin tidak merasakan itu semua, sungguh menyiksa, sangat. Tapi aku masih ingin didekatnya, menikmati setiap lekukan diwajahnya. Menghayati setiap bahasa tatapannya lewat bola mata cokelat terangnya itu. Aku sangat menikmatinya, itu candu.
Purnama, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku lelah dengan rasa sakit ini. Aku terlena oleh harapan yang ku buat sendiri. Aku lelah menyangkal, tapi aku juga tak ingin mengakuinya. Aku tak ingin terus berlanjut seperti ini, cinta sendiri.
Aku sering tidak menjadi diriku sendiri, agar supaya aku bisa menjadi apa yang dia inginkan dari seorang wanita. Tapi kelamaan aku sadar, aku telah banyak menyiksa diriku sendiri oleh sesuatu yang tak pasti. Sejujurnya aku ingin berhenti, tetapi keadaan terus membawaku kepadanya. Tolong, bantu aku untuk menyudahi ini.
Purnama, aku sadari inilah cinta sendiriku yang paling melelahkan. Aku terus menerus berspekulasi tentang bagaimana perasaannya, yang mana itu membuatku tak kuasa. Aku tahu sedari dulu aku tak pernah diinginkan, diharapkan. Namun yang kulakukan adalah membuat harapan semu. Dan segala persepsiku terhadapnya yang membunuhku secara perlahan. Untuk itu, bawa pergi perasaanku ini bersama malam. Aku lelah.
Purnama, pernah ku ukir cerita penuh dosa perihal ingkar. Tapi kali ini tak lagi menyoal ingkar. Lebih dari itu, lebih lara, lebih nestapa. Kesadaran, memang aku jadi sadar 'apa' dan 'bagaimana' perasaan yang akhir-akhir ini banyak merenggut atensiku. Aku jadi mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Tapi, inilah yang malah menciptakan benang kusut baru.
Aku menaruh perhatian padanya, tapi aku selalu menyangkalnya.
Kutatap purnama lekat-lekat, mengapa kau harus menjadi mediaku dalam memaknai semua ini? Tolong, aku ingin memiliki kenangan indah tentangmu, jangan lagi perkara lara.
Sesungguhnya yang aku inginkan adalah kejujuran dari hatiku sendiri. Aku sering cemburu ketika melihatnya lebih merasa nyaman dengan perempuan lain. Aku cemburu ketika ia lebih bisa memahami orang lain. Aku cemburu ketika ia lebih memperhatikan perempuan lain dan sudah terlalu banyak perempuan yang pula perhatian padanya. Aku sedih ketika aku tidak lagi menarik baginya. Aku ingin tidak merasakan itu semua, sungguh menyiksa, sangat. Tapi aku masih ingin didekatnya, menikmati setiap lekukan diwajahnya. Menghayati setiap bahasa tatapannya lewat bola mata cokelat terangnya itu. Aku sangat menikmatinya, itu candu.
Purnama, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku lelah dengan rasa sakit ini. Aku terlena oleh harapan yang ku buat sendiri. Aku lelah menyangkal, tapi aku juga tak ingin mengakuinya. Aku tak ingin terus berlanjut seperti ini, cinta sendiri.
Aku sering tidak menjadi diriku sendiri, agar supaya aku bisa menjadi apa yang dia inginkan dari seorang wanita. Tapi kelamaan aku sadar, aku telah banyak menyiksa diriku sendiri oleh sesuatu yang tak pasti. Sejujurnya aku ingin berhenti, tetapi keadaan terus membawaku kepadanya. Tolong, bantu aku untuk menyudahi ini.
Purnama, aku sadari inilah cinta sendiriku yang paling melelahkan. Aku terus menerus berspekulasi tentang bagaimana perasaannya, yang mana itu membuatku tak kuasa. Aku tahu sedari dulu aku tak pernah diinginkan, diharapkan. Namun yang kulakukan adalah membuat harapan semu. Dan segala persepsiku terhadapnya yang membunuhku secara perlahan. Untuk itu, bawa pergi perasaanku ini bersama malam. Aku lelah.
Yang selalu mengutuk diri ketika terlena akan tatapnya padahal sudah ingin berhenti,
S
Comments
Post a Comment