Disini lagi, aku.
Menuai rindu yang tak jemu. Rasanya tak ingin kuakhiri rasa ini, disini.
Dan otakku terputar lagi tentang memori itu. Dimana aku tidak tahu apa-apa dan masih belum tahu apa-apa, tapi aku sudah lama mengenal nama. Ya, pujaanku sedari menengah pertama.
Di tempat ini, di suasana ini, aku terbawa. Yang kuingat hanya engkau. Padahal, sudah beberapa kali kujamah tempat ini dengan tambatan hatiku yang lain. Namun, memang hanya kau yang pertama.
Pertama kali aku kesini tanpa keluarga. Hanya aku, kau, dan teman-teman kita.
Aku juga heran. Setiap kali aku berlabuh ke lain hati lalu kurasa patah hati, ujungnya tetap kembali.
Kepadamu, yang sedari lama kujadikan alasan. Aku tak mengerti, padahal awalnya bukan kau tujuanku, tapi ternyata hatiku yang menujumu.
Kau bawa rasa, kau bawa asa. Saat itu, ditempat ini, sedingin hawa ini, aku tak menyangka. Walau dulu kita bukan apa-apa, tapi aku menyimpan suka. Dan kau menjagaku dengan rasa.
Kita memang tak pernah ada status, tapi aku tahu dan kau pun juga tak mungkin lupa.
Disini, lagi. Tergambar jelas disetiap langkah perjalanan, disetiap roda yang berputar, ingatan tentangmu seakan menyapaku. Mereka diam, hatiku lah yang bergerak. Kehangatanmu, tajamnya matamu, dan teduhnya pandanganmu. Hanya aku yang dapat menikmati itu, di hari itu. Kita sehari penuh, bersama.
Dan saat ini, awan hitam berada tepat diatasku. Persis saat itu, saat kau bersamaku. Aku yang takut, karena jika hujan dan aku basah kuyup sampai rumah, orang tuaku bakal marah. Dan ingatkah kamu, apa yang kau ucapkan kala itu?
''Tenang, berdoa saja"
Sederhana, tapi ketika yang mengucapkan adalah kau, itu luar biasa.
''Tenang, berdoa saja"
Sederhana, tapi ketika yang mengucapkan adalah kau, itu luar biasa.
Gerimis tiba. Sangat persis, saat itu juga gerimis. Aku mengerti betul kekhawatiranmu karena jaket yang kukenakan mudah terembes air. Dan apa yang kau lakukan? Ingat? Ya, kau coba sebisamu untuk menutupi tubuhku dari air hujan. Sungguh, aku terbawa.
Jalanan yang turun curam ini. Aku juga merasa. Kau bahkan sempat mengatakan bahwa tanganmu pegal. Aku tahu itu karena terlalu berat menahan. Itu semua demiku, aku tahu, selembut itu hatimu.
Coba ingat, bahkan aku tak percaya memiliki kesempatan bisa bersamamu. Saat itu, rasanya hanya itu satu-satunya kesempatanku. Dan mungkin memang benar, adalah aku si pemujamu. Sampai sekarang.
Tawangmangu, 30 Juli 2017
Faradesyta
Faradesyta
Comments
Post a Comment