Menatap mata sayunya lekat-lekat, yang ini memang benar-benar sayu. Garis matanya melengkung ke bawah, menambah pikat yang mencuat.
Terkadang terpancar layu, tapi tak lekang binarnya mengadu. Menyerukan luka yang entah disadari atau tidak oleh pemiliknya. Aku sering berkata dalam hati, 'Mata indahmu tak akan pernah bisa menipuku'. Meski ia kubur dalam tegasnya perilaku, atau gagahnya tutur kata, maupun lugasnya cara pandang. Aku masih merasakan luka lewat binar itu.
Luka yang aku sendiri tak paham asalnya, meski sudah separuh perjalanan aku ada. Berkali menerka dan tak banyak yang kurasa. Terlalu dalam dan jauh terlihatnya.
Hal itu menyadarkanku akan letakku, yang hanya 'sekedar'. Sehingga apapun yang terjadi, memang bukan ranahku untuk memasuki dunia itu. Dunia yang memang tak ada restu untukku mencapainya.
Dekat, namun jauh. Itulah definisinya. Pemilik mata sayu yang benar-benar sering kutunggu hadirnya. Entah sampai kapan akan mendamba tanpa sambutan, yang jelas 'tempat' ku sudah kusadari letaknya.
Sudah kuduga, tak akan mudah,
Pelik dan rumit, yang tak ada ujungnya
Meski begitu, rasa dan karsa untuknya selalu ada tempatnya
Comments
Post a Comment